Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengembangkan inovasi strategis di bidang teknologi nuklir medis.
Kolaborasi dua lembaga riset terkemuka Indonesia ini menghasilkan teknologi dual-chamber atau ruang target ganda pada siklotron — sebuah terobosan yang dinilai mampu memperkuat kemandirian teknologi kedokteran nuklir nasional.
Apa Itu Teknologi Dual-Chamber Radioisotop?
Teknologi dual-chamber yang dikembangkan BRIN dan ITB memungkinkan produksi dua radioisotop penting — Fluorine-18 (F-18) dan Phosphorus-32 (P-32) — secara bersamaan dalam satu kali proses iradiasi menggunakan siklotron.
Selama ini, kedua radioisotop tersebut harus diproduksi secara terpisah, yang memakan waktu, biaya, dan sumber daya lebih besar. Melalui pendekatan baru ini, proses produksi menjadi jauh lebih efisien.
Manfaat F-18 dan P-32 di Dunia Medis
F-18 banyak dimanfaatkan dalam dunia medis, khususnya untuk pencitraan kanker menggunakan metode Positron Emission Tomography (PET). Sementara itu, P-32 digunakan dalam terapi beberapa jenis kanker serta berbagai aplikasi di bidang biologi dan pertanian.
Ketersediaan kedua radioisotop ini secara mandiri di dalam negeri akan berdampak langsung pada peningkatan akses layanan kesehatan — terutama bagi pasien kanker yang bergantung pada teknologi pencitraan dan terapi nuklir.
Inovasi Memanfaatkan Neutron yang Terbuang
Salah satu aspek paling inovatif dari teknologi ini adalah pemanfaatan energi yang selama ini terbuang sia-sia. Selama ini, proses produksi F-18 menghasilkan neutron sekunder yang belum dimanfaatkan secara optimal dan cenderung terbuang.
Melalui pendekatan dual-chamber, neutron tersebut dimanfaatkan untuk memicu reaksi pembentukan P-32, sehingga meningkatkan efisiensi proses secara signifikan.
Inovasi ini bukan hanya soal efisiensi teknis, melainkan juga representasi prinsip sains berkelanjutan — tidak ada energi yang terbuang percuma.
Tim Peneliti dan Publikasi Ilmiah
Penelitian ini berjudul "A Novel Dual-Chamber Cyclotron Target for Simultaneous Production of F-18 and P-32" dan merupakan hasil kolaborasi Imam Kambali dari BRIN bersama Fabian Yoga Prastha dan Zaki Su'ud dari Institut Teknologi Bandung. Penelitian ini dipublikasikan pada Juli 2025.
Ketiganya merupakan periset berpengalaman di bidang fisika nuklir dan teknologi akselerator, dengan rekam jejak riset yang telah diakui di tingkat internasional.
Mendukung Kemandirian Teknologi Kedokteran Nuklir Nasional
Teknologi ini diharapkan dapat mendukung pengembangan layanan kesehatan yang lebih baik dan terjangkau, sekaligus memperkuat kemandirian teknologi kedokteran nuklir nasional.
Langkah ini sejalan dengan peta jalan strategis BRIN jangka panjang. BRIN menargetkan peningkatan kapasitas nasional dalam produksi radioisotop untuk kebutuhan medis, industri, dan penelitian.
Ketersediaan radioisotop dalam negeri dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan radioisotop dari luar negeri yang selama ini membebani biaya layanan kesehatan nuklir.
Siklotron sebagai Infrastruktur Strategis Nasional
Pengembangan teknologi dual-chamber ini tidak berdiri sendiri. BRIN juga mempercepat upaya penguatan kemandirian teknologi nuklir di sektor kesehatan melalui pengembangan siklotron DECY-13, sebuah infrastruktur strategis yang dirancang untuk produksi radioisotop medis dan mendukung riset lanjutan.
Pengembangan DECY-13 merupakan bagian dari program strategis BRIN periode 2025–2029 yang mencakup tahapan desain, konstruksi, hingga pengujian operasional.
Kolaborasi BRIN dan ITB dalam mengembangkan teknologi dual-chamber radioisotop merupakan langkah nyata Indonesia menuju kemandirian di bidang teknologi nuklir medis.
Dengan kemampuan memproduksi F-18 dan P-32 secara bersamaan dan efisien, inovasi ini berpotensi menurunkan biaya layanan kesehatan nuklir, memperluas akses diagnosis dan terapi kanker, serta menempatkan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju dalam penguasaan teknologi radioisotop.
Sumber: Tempo.co — BRIN dan ITB Kembangkan Teknologi Dual-Chamber Radioisotop (24 April 2026).
