Bahaya Doomscrolling Bagi Otak

Notification

×

Bahaya Doomscrolling Bagi Otak

06/08/2026 | 8:32:00 AM WIB Last Updated 2026-08-06T13:53:44Z
Doomscrolling,doomsurfing,kecanduan media sosial,kesehatan mental,efek berita buruk bagi otak, cara mengatasi doomscrolling, fear of missing out (FOMO), hormon kortisol, stres digital

Bahaya Doomscrolling: Mengapa Terus Membaca Berita Buruk Bisa Merusak Otak?

Pernahkah Anda berencana untuk tidur lebih awal, tetapi malah menghabiskan waktu berjam-jam menggulir layar ponsel di tempat gelap hanya untuk membaca berita buruk, gosip negatif, atau tragedi yang sedang viral?  Fenomena ini dikenal dengan istilah Doomscrolling.

Doomscrolling atau doomsurfing adalah kebiasaan terus-menerus menelusuri media sosial atau internet untuk mengonsumsi informasi dan berita negatif.

Meski informasi tersebut membuat kita merasa cemas, takut, atau marah, jari kita seolah menolak untuk berhenti menggulir layar.  Kebiasaan ini meledak selama masa pandemi, tetapi kini telah menjadi gaya hidup digital yang sulit dihentikan.

Namun, tahukah Anda bahwa kebiasaan yang terlihat sepele ini sebenarnya membawa dampak destruktif bagi struktur dan cara kerja otak kita?

Mengapa Kita Sulit Berhenti Melakukan Doomscrolling?

Secara alami, otak manusia berevolusi untuk memiliki bias terhadap hal-hal negatif.  Di masa prasejarah, manusia purba yang lebih waspada terhadap ancaman (seperti hewan buas atau bencana) memiliki peluang hidup lebih tinggi.

Saat ini, ancaman tersebut berubah wujud menjadi berita tragedi, krisis ekonomi, atau konflik di media sosial.  Otak kita menganggap informasi tersebut sebagai "ancaman" yang perlu diketahui agar kita bisa bersiap-siap dan bertahan hidup.

Sayangnya, algoritma media sosial memanfaatkan naluri ini dengan terus menyajikan konten yang memicu respons emosional, membuat kita terjebak dalam lingkaran setan.

Bagaimana Doomscrolling Merusak Sistem Otak?

Mengonsumsi berita buruk secara maraton bukan sekadar membuang waktu.  Ini secara aktif memengaruhi sistem saraf dan kimiawi otak Anda melalui beberapa cara:

1. Membajak Amygdala (Pusat Rasa Takut pada Otak)

Doomscrolling berakar pada sistem limbik di otak, tepatnya pada bagian yang disebut amygdala.
Bagian ini berfungsi mendeteksi ancaman dan memicu respons fight-or-flight (lawan atau lari).

Saat Anda terus membaca berita buruk, otak mengira Anda sedang berada dalam bahaya nyata.  Hal ini memicu otak untuk melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin secara terus-menerus. 

Kondisi stres kronis tersebut dapat memicu kelelahan mental, kecemasan eksistensial, hingga depresi.

2. Terjadinya Fenomena "Popcorn Brain"

Menurut para pakar kesehatan dari Harvard, stimulasi berlebihan dari rentetan informasi cepat di internet dapat menyebabkan fenomena popcorn brain

Ini adalah kondisi biologis nyata di mana otak Anda terasa seperti "meletup-letup" karena dipaksa memproses terlalu banyak stimulus secara bersamaan.

Akibatnya, Anda akan kesulitan untuk fokus, rentan mengalami penurunan produktivitas, dan kesulitan berinteraksi di dunia nyata yang berjalan jauh lebih lambat daripada dunia maya.

3. Kekacauan Sistem Dopamin

Setiap kali Anda menggulir layar, otak mencari informasi baru.  Saat menemukannya, otak melepaskan sedikit dopamin—zat kimia yang terkait dengan penghargaan dan motivasi.

Namun, karena yang Anda temukan adalah berita negatif, otak menjadi bingung antara rasa "puas" menemukan informasi dan rasa "cemas" karena isi informasinya.

Ini menciptakan perilaku adiktif di mana Anda terus menggulir untuk mencari akhir yang melegakan, yang sayangnya tidak pernah datang.

4. Gangguan Ritme Sirkadian dan Memori

Melakukan doomscrolling sebelum tidur merangsang otak untuk terus aktif.  Ditambah dengan paparan cahaya biru dari layar, produksi melatonin (hormon tidur) akan terhambat.

Akibatnya, Anda tidak hanya mengalami insomnia, tetapi otak juga kehilangan waktu krusialnya untuk membersihkan racun dan menyimpan memori jangka panjang saat fase Deep Sleep.

Cara Menghentikan Siklus Doomscrolling

Memutus rantai candu ini membutuhkan kesadaran dan batas fisik yang tegas.  Berikut beberapa langkah sederhana untuk menyelamatkan otak Anda:


  • Jauhkan ponsel dari tempat tidur, jangan jadikan ponsel sebagai hal terakhir yang Anda lihat sebelum tidur atau hal pertama yang Anda sentuh saat bangun.
  • Gunakan mode Grayscale (Hitam Putih), mengubah warna layar ponsel menjadi abu-abu dapat menurunkan daya tarik visual sehingga hasrat untuk terus menggulir layar akan menurun tajam.
  • Batasi Waktu Layar, gunakan fitur pengingat (screen time) pada ponsel untuk membatasi durasi penggunaan aplikasi media sosial maksimal 30-60 menit sehari.
  • Matikan notifikasi yang tidak penting, suara denting notifikasi adalah umpan yang dirancang untuk menarik perhatian Anda kembali ke layar. Ambil kendali dengan mematikannya.


Dunia memang tidak selalu baik-baik saja, tetapi mengonsumsi seluruh penderitaan dunia melalui layar 6 inci tidak akan menyelesaikan masalah—hal itu justru akan merusak organ terpenting di dalam diri Anda.