Harga Random Access Memory (RAM) di pasar global melonjak tajam sepanjang 2026, dengan kenaikan di sejumlah segmen menembus lebih dari 100 persen dibanding tahun sebelumnya. Lonjakan ini dipicu oleh perburuan chip memori oleh perusahaan-perusahaan raksasa kecerdasan buatan (AI), yang menyedot hampir seluruh kapasitas produksi tiga produsen memori utama dunia seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron.
Akibatnya, konsumen biasa—mulai dari perakit PC hingga pembeli laptop dan ponsel—harus membayar jauh lebih mahal untuk komponen yang dulu dianggap murah.
Lonjakan Harga yang "Belum Pernah Terjadi Sebelumnya"
Lembaga riset pasar TrendForce yang berbasis di Taipei memperkirakan harga kontrak rata-rata DRAM naik 50 hingga 55 persen pada kuartal pertama 2026 dibanding kuartal keempat 2025. Analis TrendForce, Tom Hsu, menyebut lonjakan sebesar itu sebagai sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya di industri memori.
Dampaknya langsung terasa pada laporan keuangan produsen chip. Samsung memperkirakan laba operasionalnya pada kuartal Desember nyaris tiga kali lipat, sementara SK Hynix bahkan mempertimbangkan pencatatan saham di bursa Amerika Serikat setelah harga sahamnya melonjak di Korea Selatan. Perusahaan itu mengumumkan seluruh kapasitas produksi RAM untuk 2026 sudah habis terjual.
Salah satu ilustrasi paling nyata datang dari kalangan pengembang perangkat lunak. Seorang eksekutif teknologi mengaku baru beberapa bulan lalu merakit komputer dengan 256GB RAM—kapasitas maksimum yang didukung motherboard konsumen saat ini—dengan biaya sekitar 300 dolar AS. Kini, untuk kapasitas yang sama, ia harus merogoh kocek hingga sepuluh kali lipat.
AI Jadi Penyebab Utama Kelangkaan RAM
Akar masalahnya bukan pada RAM biasa yang dipakai laptop atau ponsel, melainkan pada komponen bernama High Bandwidth Memory (HBM)—jenis memori berkecepatan tinggi yang dipasang berdampingan dengan chip pemroses grafis (GPU) buatan Nvidia dan produsen chip AI lainnya untuk melatih serta menjalankan model kecerdasan buatan.
Karena HBM jauh lebih menguntungkan secara margin dibanding DRAM konvensional, Samsung, SK Hynix, dan Micron beramai-ramai mengalihkan kapasitas pabrik mereka ke produksi HBM demi memenuhi pesanan raksasa AI seperti Nvidia, Microsoft, Google, dan penyedia layanan cloud besar lainnya.
Konsekuensinya, pasokan DRAM untuk kebutuhan konsumen dan perangkat sehari-hari pun menyusut drastis. Fenomena inilah yang oleh sebagian pengamat industri disebut sebagai bentuk "keserakahan" korporasi, karena produsen memilih mengejar margin tertinggi dari sektor AI ketimbang menjaga pasokan pasar konsumen tetap stabil.
Micron bahkan mengambil langkah ekstrem dengan menutup total lini bisnis memori konsumennya, sementara SK Hynix disebut telah menghapus batas atas harga dalam kontrak pasokan jangka panjangnya agar bisa sepenuhnya mengikuti lonjakan harga di pasar spot—strategi yang secara terang-terangan mengutamakan keuntungan maksimal di tengah siklus harga yang sedang memuncak.
Kenaikan Harga RAM Mulai Melambat, Tapi Belum Berhenti
Kabar sedikit meredakan datang dari laporan terbaru TrendForce yang dikutip Tom's Hardware. Untuk kuartal ketiga 2026, harga kontrak DRAM konvensional diperkirakan hanya naik 13 hingga 18 persen dibanding kuartal sebelumnya, jauh melambat dari lonjakan sekitar 60 persen yang tercatat pada kuartal kedua.
Namun perlambatan ini bukan tanda membaiknya pasokan. TrendForce menegaskan penyebabnya adalah produsen elektronik konsumen yang sudah tidak mampu lagi menyerap kenaikan harga setelah berbulan-bulan terus-menerus naik, bukan karena RAM menjadi lebih berlimpah.
Permintaan dari sistem inferensi AI dan pusat data skala besar tetap menjadi kekuatan utama yang membuat pasokan DRAM dan NAND tetap ketat, sementara produsen terus mengalihkan kapasitas ke produk kelas server bermargin tinggi.
Situasi ini membuat pasar memori kini terbelah dua yaitu sisi perusahaan (enterprise) yang permintaannya diperkirakan tetap kuat hingga 2027 berkat kontrak pasokan jangka panjang, dan sisi konsumen yang justru semakin tertekan.
Produsen laptop diperkirakan tetap menaikkan harga jual seiring menipisnya stok lama, sementara vendor ponsel pintar juga bersiap menaikkan harga untuk mengimbangi mahalnya memori LPDRAM.
Kapan Harga RAM Bisa Turun?
Belum ada tanda-tanda tren ini akan berbalik arah dalam waktu dekat. Pembangunan pabrik fabrikasi chip baru membutuhkan waktu bertahun-tahun, sementara permintaan dari sektor AI diperkirakan terus tumbuh seiring investasi besar-besaran perusahaan teknologi global ke infrastruktur kecerdasan buatan.
Selama produsen memori masih lebih memilih mengejar margin tinggi dari chip AI ketimbang memprioritaskan pasokan konsumen, harga RAM di pasaran—termasuk di Indonesia—kemungkinan besar masih akan bertahan tinggi hingga beberapa tahun ke depan.
Sumber:
- CNBC, "AI memory is sold out, causing an unprecedented surge in prices", dipublikasikan 10 Januari 2026.
- Tom's Hardware, "Memory price surge begins to cool as consumers hit affordability limit — AI demand still keeps DRAM and NAND prices climbing through Q3 2026", dipublikasikan 4 Juli 2026.
