Algoritma Threads dan Rage Bait yang Meresahkan

Notification

×

Algoritma Threads dan Rage Bait yang Meresahkan

23/10/2026 | 4:55:00 AM WIB Last Updated 2026-10-22T21:58:06Z
Media Sosial,Algoritma,rage bait,Threads,Meta (Facebook),rage bait Threads,engagement bait Meta,Platform,Threads viral,Meta rage bait,Katie Notopoulos Threads

Fenomena rage bait — konten yang sengaja dirancang untuk memancing amarah dan reaksi emosional pembaca — tengah menjamur di platform Threads milik Meta. Isu ini mencuat setelah seorang jurnalis senior Business Insider, Katie Notopoulos, mencoba sendiri strategi tersebut dan mendapati hasil yang di luar dugaan.

Eksperimen Threads yang Berujung Viral

Dalam percobaannya, Notopoulos sengaja mengunggah sejumlah pertanyaan dan pernyataan kontroversial di akun Threads miliknya untuk melihat seberapa jauh algoritma platform tersebut “memberi makan” konten semacam itu.


Hasilnya, unggahan-unggahannya memicu ribuan balasan dan menyebar jauh lebih luas dibanding konten biasa.  Dari eksperimen ini, ditemukan pola penting: 

  • Threads tampaknya memberi bobot lebih besar pada unggahan yang memancing banyak komentar, bukan sekadar yang disukai. 
  • Semakin ramai perdebatan di kolom balasan, semakin besar pula peluang sebuah unggahan muncul di beranda pengguna lain.


Posts with a lot of comments look to be more heavily weighted when it comes to what shows up in your Threads feed — temuan inilah yang kemudian banyak dirujuk oleh pemasar digital untuk “meretas” jangkauan di Threads.

Meta Akui Ada Masalah

Kepala Instagram sekaligus pengawas Threads, Adam Mosseri, turun tangan merespons sorotan publik terhadap fenomena ini.  Ia mengakui bahwa platformnya memang mengalami lonjakan konten umpan emosi dan menegaskan timnya tengah berupaya mengatasinya.

Mosseri juga menggarisbawahi bahwa tidak semua komentar atau balasan itu baik, sehingga tidak semua interaksi semestinya mendapat prioritas di algoritma.

Pernyataan itu muncul setelah CEO Meta, Mark Zuckerberg, dalam sebuah wawancara podcast sempat menyinggung bahwa banyaknya interaksi pada sebuah unggahan umumnya menjadi tanda sehatnya sebuah jejaring sosial.

Namun belakangan, pandangan tersebut mulai dipertanyakan karena justru membuka celah bagi taktik provokasi demi mengejar angka interaksi semata.

Tantangan Memilah Bait dari Diskusi Asli

Persoalan utama yang dihadapi Meta bukan sekadar menghapus rage bait, melainkan membedakannya dari pertanyaan atau diskusi yang memang tulus.  Sebab, unggahan yang memancing diskusi sejatinya adalah hal yang ingin didorong oleh algoritma Threads — hanya saja, batas antara “memancing diskusi” dan “memancing amarah” sangat tipis dan sulit dideteksi secara otomatis.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di dunia media sosial.  Konten yang membangkitkan emosi seperti marah, takut, atau gembira memang terbukti paling efektif mendorong interaksi di hampir semua platform.

Bedanya, desain algoritma Threads yang mengutamakan jumlah balasan membuat taktik ini terasa jauh lebih “menguntungkan” dibanding platform lain, sehingga makin banyak kreator dan akun pemasaran sengaja memanfaatkannya untuk mendongkrak eksistensi secara instan.

Pada akhirnya, maraknya rage bait juga tidak lepas dari kebiasaan pengguna sendiri.  Selama unggahan provokatif terus mendapat balasan dan perhatian, platform manapun — termasuk Threads — akan terus mendorongnya ke permukaan.