World Economic Forum (WEF) telah mengakui pabrik Beauty & Wellbeing Unilever di Tinsukia, India, sebagai situs End-to-End Value Chain Lighthouse.
Berikut adalah bagaimana pabrik tersebut memanfaatkan AI untuk bekerja lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih berkelanjutan.
Poin utama:
- Pabrik Tinsukia adalah situs Unilever kedelapan yang bergabung dengan Global Lighthouse Network milik WEF.
- Jaringan Lighthouse mengakui para produsen yang menggunakan teknologi mutakhir secara luas guna meningkatkan hasil finansial, operasional, dan keberlanjutan.
- Teknologi berbasis AI yang baru tengah membantu Unilever memenuhi permintaan e-commerce yang terus berkembang untuk pengiriman instan dengan merek-merek unggulan yang tak tertandingi.
AI sedang memajukan bisnis Unilever di berbagai bidang — mulai dari wawasan berbasis data untuk pemasaran hingga pengembangan produk digital di laboratorium. Dampaknya juga sangat besar dalam bidang manufaktur, yaitu:
- Meningkatkan produktivitas
- Memperkuat ketahanan dan antifragilitas
- Mengurangi pemborosan
- Memperbaiki perencanaan sumber daya
Global Lighthouse Network milik WEF mengakui pabrik-pabrik paling maju secara digital di seluruh dunia. Untuk memenuhi kriteria tersebut, sebuah situs harus membuktikan bagaimana mereka menggunakan teknologi Revolusi Industri Keempat (4IR) — seperti AI, otomasi pabrik, Cloud Computing, dan Internet of Things (IoT)— untuk mengubah cara kerja serta mendorong peningkatan di bidang keuangan, operasional, maupun keberlanjutan.
Di situs Tinsukia, teknologi 4IR menjalankan hampir setiap proses, dengan lebih dari 50 inisiatif yang saat ini berjalan di seluruh rantai pasok dari hulu ke hilir. Pendekatan progresif inilah yang menjadikan Tinsukia sebagai pabrik Unilever kedelapan yang meraih pengakuan Lighthouse.
Lima Cara AI Diterapkan untuk Mencapai Kinerja Luar Biasa di Tinsukia
1. Pergantian Produk yang Cepat demi Kesiapan E-Commerce
Bisnis e-commerce Unilever tumbuh pesat. Untuk memenuhi permintaan pengiriman cepat yang semakin meningkat, produk harus dibuat, dikirim, dan siap dijual dengan laju yang tinggi.
Di Tinsukia, sistem visi berbasis AI telah diterapkan untuk memetakan fitur produk dan mengidentifikasi anomali secara real-time. Hasilnya adalah pergantian lini produksi dengan satu klik yang membuat waktu pergantian menjadi 85% lebih cepat.
2. Keunggulan Produk yang Tak Tertandingi Melalui Data dan Wawasan
Tinsukia menggunakan wawasan konsumen yang didukung AI generatif untuk meningkatkan kualitas produk dengan cepat.
Dengan memanfaatkan model bahasa besar (large language models), situs ini mencapai akurasi 97% dalam menganalisis umpan balik konsumen dan mengubahnya menjadi tindakan nyata — lebih cepat dari sebelumnya.
Hal ini membantu pabrik mencapai peningkatan skor kepuasan pelanggan sebesar 73%, serta penurunan cacat produksi sebesar 21%.
3. Meningkatkan Produksi Sekaligus Berinvestasi pada Sumber Daya Manusia
Alat alokasi tenaga kerja berbasis AI yang baru telah membantu meningkatkan produktivitas tenaga kerja hampir 400% di Tinsukia.
Dikembangkan secara internal, alat ini secara dinamis menempatkan orang yang tepat ke lini produksi berprioritas tinggi berdasarkan keterampilan dan pengalaman mereka.
Alat ini juga mengidentifikasi kesenjangan keterampilan dan memberikan pelatihan terarah untuk meningkatkan kompetensi karyawan sesuai kebutuhan.
4. Uji Coba Kemasan Berkelanjutan yang Lebih Cepat Melalui Teknologi Digital Twin
Di seluruh operasi Unilever, perusahaan menargetkan pengurangan plastik perawan (virgin plastic) sebesar 40% pada 2028. AI turut mendukung tujuan tersebut di pabrik ini.
Tim di Tinsukia telah memperkenalkan pendekatan digital twin berbasis AI yang membantu menguji opsi kemasan yang lebih ramah lingkungan dengan cepat dan memasukkan lebih banyak kandungan daur ulang ke dalam kemasan.
Dengan menciptakan replika digital dari situs secara daring, tim dapat mensimulasikan, menguji, dan memantau operasi secara virtual sebelum menerapkan opsi terbaik di dunia nyata.
Hasilnya sejauh ini mencakup pengurangan penggunaan plastik perawan sebesar 21% pada kemasan di situs tersebut. Waktu yang diperlukan untuk menjalankan uji coba kemasan berkelanjutan pun berkurang 84%, dengan jumlah uji coba meningkat dari hanya dua kali per tahun pada 2019 menjadi 30 kali pada 2023.
5. Perencanaan Dinamis untuk Memenuhi Permintaan Secara Real-Time
Lebih dari 5,4 miliar unit per tahun diproduksi di Tinsukia untuk merek-merek seperti Dove, Vaseline, dan Pond's. Bahkan, pabrik ini memiliki kapasitas produksi terbesar di antara seluruh pabrik Beauty & Wellbeing Unilever di Asia Selatan.
Situs ini telah memperkenalkan ekosistem perencanaan digital berbasis AI untuk pengiriman e-commerce ultra-cepat. Kini pabrik mampu menganalisis lebih dari 10.000 kombinasi produk menggunakan lebih dari 300 fitur, dan bertindak berdasarkan sinyal permintaan untuk memastikan pasokan produksi memenuhi kebutuhan nyata secara real-time.
Situs ini telah memperkenalkan ekosistem perencanaan digital berbasis AI untuk pengiriman e-commerce ultra-cepat. Kini pabrik mampu menganalisis lebih dari 10.000 kombinasi produk menggunakan lebih dari 300 fitur, dan bertindak berdasarkan sinyal permintaan untuk memastikan pasokan produksi memenuhi kebutuhan nyata secara real-time.
Hasilnya, situs ini berhasil mencapai pengurangan periode beku (frozen period) sebesar 92% — dari 14 hari menjadi hanya 1 hari — yang secara signifikan meningkatkan kecepatan ke pasar dan respons terhadap perubahan pasar.
Kemampuan prediksi permintaan konsumen meningkat 35%, sementara inventaris barang jadi berkurang 16%, memungkinkan pengisian ulang stok yang lebih efisien dan pelayanan konsumen yang lebih cepat.
Sumber: Uniliver.com - "Five ways Unilever’s new Lighthouse site applies AI for impact".
