Mengapa Pengguna Ramai-ramai Menghapus ChatGPT?

Notification

×

Mengapa Pengguna Ramai-ramai Menghapus ChatGPT?

05/03/2026 | 11:10:00 PM WIB Last Updated 2026-03-05T16:16:06Z


Dunia kecerdasan buatan (AI) baru-baru ini terguncang oleh reaksi keras penggunanya. Aplikasi AI terpopuler di dunia, ChatGPT, mengalami lonjakan penghapusan aplikasi (uninstall) hingga mencapai angka fantastis: 295% hanya dalam satu akhir pekan.

Eksodus massal ini dipicu oleh kesepakatan kontroversial antara perusahaan pembuatnya, OpenAI, dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon).

Bagaimana kesepakatan militer ini berubah menjadi bencana Public Relations (PR) bagi OpenAI? Berikut adalah kronologi dan dampaknya.

Semua bermula pada akhir Februari 2026, ketika OpenAI memutuskan untuk menerima kontrak kerja sama dengan Pentagon. Keputusan ini diambil hanya beberapa jam setelah perusahaan pesaing mereka, Anthropic (pengembang AI Claude), secara tegas menolak persyaratan dari militer AS karena kekhawatiran akan pengawasan massal (mass surveillance) dan potensi penggunaan AI untuk senjata otonom.

Langkah OpenAI yang terkesan mengambil alih kontrak yang ditolak Anthropic tersebut memicu kemarahan dari basis pengguna setia mereka. Di berbagai forum online seperti Reddit, muncul kampanye besar-besaran bertajuk "Cancel and Delete"ChatGPT, karena pengguna merasa dikhianati dan keberatan dengan keterlibatan teknologi AI dalam urusan militer.

Angka Uninstall ChatGPT Meroket Tajam

Berdasarkan data dari perusahaan intelijen pasar Sensor Tower (seperti yang dilaporkan oleh eWeek), angka-angka menunjukkan pukulan telak bagi dominasi OpenAI:

  • Lonjakan Uninstall: Tingkat pencopotan aplikasi ChatGPT melonjak tajam hingga 295%, sangat jauh dari rata-rata uninstall harian yang biasanya hanya 9%.

  • Penurunan Unduhan: Unduhan keseluruhan aplikasi di AS anjlok 13% pada hari Sabtu dan merosot lagi 5% pada hari Minggu.

  • Badai Rating Buruk: Ulasan bintang 1 (satu) untuk aplikasi ChatGPT melonjak hingga 775% di hari Sabtu, dan naik lagi 100% pada hari Minggu. Sebaliknya, rating bintang 5 anjlok hingga 50%.


Tragis bagi OpenAI, eksodus penggunanya menjadi berkah besar bagi saingan utamanya, Claude. Di akhir pekan yang sama, aplikasi Claude menikmati lonjakan unduhan yang masif dan berhasil merebut posisi nomor 1 (satu) sebagai aplikasi gratis terpopuler di Apple App Store Amerika Serikat, mengalahkan ChatGPT untuk pertama kalinya.

Menyadari kekacauan ini, CEO OpenAI, Sam Altman, akhirnya buka suara di platform (sebelumnya Twitter) untuk mengendalikan situasi. Ia mengakui bahwa pengumuman kesepakatan tersebut ditangani secara buruk oleh perusahaan.

"Kita seharusnya tidak terburu-buru merilis (kesepakatan) ini pada hari Jumat," tulis Altman. Ia juga mengakui bahwa keputusan cepat tersebut terlihat "ceroboh dan oportunistis" di mata publik.

Sebagai langkah perbaikan, OpenAI akhirnya merevisi kontrak mereka dengan Pentagon. Mereka memasukkan batasan-batasan hukum yang jelas dan eksplisit, yang melarang penggunaan model AI mereka untuk pengawasan domestik terhadap warga sipil maupun untuk sistem persenjataan otonom yang bisa berakibat fatal.

Pelajaran Etika bagi Raksasa AI di Tahun 2026

Peristiwa anjloknya pengguna ChatGPT memberikan sinyal kuat bagi seluruh industri teknologi. Di tahun 2026, pengguna tidak lagi hanya tergiur oleh kecanggihan fitur, melainkan juga sangat memperhatikan etika dari perusahaan pembuatnya.

Bagi OpenAI, skandal militer Pentagon ini telah menghilangkan jutaan pengguna setia dalam hitungan hari. Masih harus dilihat ke depannya, apakah revisi kebijakan yang dilakukan Sam Altman bisa memulihkan kepercayaan publik, atau apakah pengguna telanjur nyaman dengan alternatif AI baru yang dianggap lebih transparan dan beretika.