Notification

×

Serangan Siber Amadeus, Data Penumpang Maskapai Bocor

Redaksi - iTNews.Id 05/11/2026 | 7:46:00 PM WIB Last Updated 2026-11-05T13:07:44Z
    Bagikan
serangan siber,Keamanan,Kebocoran data penumpang maskapai,ransomware,Japan Airlines,Cathay Pacific,Malaysia Airlines,Singapore Airlines,phishing

Industri penerbangan internasional menghadapi ancaman keamanan siber setelah sistem pemesanan tiket milik Amadeus, perusahaan teknologi perjalanan asal Spanyol, mengalami insiden akses tidak sah.  Sejumlah maskapai besar di Asia, termasuk:
 

  • Japan Airlines
  • Cathay Pacific
  • Malaysia Airlines
  • Singapore Airlines


Melaporkan adanya potensi paparan data pribadi penumpang akibat insiden tersebut.  Kasus ini menjadi perhatian karena Amadeus merupakan salah satu penyedia teknologi penting bagi industri penerbangan global.

Sistemnya digunakan untuk mendukung berbagai layanan, mulai dari reservasi tiket, penerbitan tiket, hingga pengelolaan data perjalanan penumpang.  

Insiden tersebut memperlihatkan bagaimana gangguan keamanan pada satu penyedia teknologi pihak ketiga dapat berdampak pada banyak perusahaan penerbangan sekaligus, meskipun sistem internal masing-masing maskapai tidak mengalami pembobolan.

Sistem Pemesanan Amadeus Mengalami Akses Tidak Sah

Amadeus mengonfirmasi telah menemukan kerentanan keamanan pada lingkungan tampilan sistem pemesanan perjalanan atau travel booking display environment.  Celah tersebut memungkinkan pihak yang tidak berwenang mengakses sejumlah data pemesanan yang tersimpan dalam sistem.

Dalam pernyataan resminya pada Oktober 2026,  Amadeus menyebut telah mengambil langkah untuk memperbaiki kerentanan tersebut.  Perusahaan juga meningkatkan kemampuan pemantauan dan pendeteksian aktivitas mencurigakan.

Amadeus memastikan bahwa sejauh ini tidak ditemukan bukti akses terhadap informasi pembayaran maupun data keuangan pelanggan.  Perusahaan juga menyatakan belum menemukan indikasi bahwa kerentanan tersebut dimanfaatkan untuk menjalankan serangan ransomware.

Meski demikian, penyelidikan masih berlangsung. Amadeus belum mengungkapkan jumlah keseluruhan pelanggan maupun maskapai yang terdampak insiden keamanan tersebut.

Japan Airlines dan Cathay Pacific Laporkan Puluhan Ribu Data Terdampak

Salah satu dampak terbesar yang telah diumumkan berasal dari Japan Airlines (JAL).  Maskapai Jepang tersebut mengonfirmasi bahwa sekitar 92.000 pelanggan berpotensi terdampak akibat akses tidak sah pada sistem Amadeus.

Berdasarkan pengumuman resmi JAL pada 28 Oktober 2026, sekitar 90.000 pelanggan memiliki data reservasi yang berpotensi diakses, meliputi:

  • Kode pemesanan
  • Nama penumpang
  • Tanggal penerbangan
  • Rute
  • Kelas layanan


Sementara itu, sekitar 2.000 pelanggan lainnya berpotensi mengalami paparan informasi tambahan, termasuk:

  • Alamat email
  • Nomor telepon
  • Nomor paspor
  • Kewarganegaraan
  • Nomor keanggotaan frequent flyer
  • Informasi tiket dan kursi


Maskapai Hong Kong, Cathay Pacific, juga melaporkan insiden serupa.  Berdasarkan pemberitahuan perusahaan, sekitar 53.000 data pemesanan penerbangan terdampak.  Informasi yang berpotensi diakses mencakup nama penumpang, nomor referensi pemesanan, dan rincian penerbangan.

Pada sebagian kecil data, terdapat kemungkinan akses terhadap informasi tambahan seperti alamat email, nomor telepon, dokumen perjalanan, dan nomor keanggotaan program loyalitas.  

Kedua maskapai menyatakan bahwa sistem internal dan operasional penerbangan mereka tidak terdampak oleh insiden tersebut.

Malaysia Airlines dan Singapore Airlines Ikut Terdampak

Malaysia Airlines menjadi salah satu maskapai berikutnya yang mengumumkan potensi kebocoran data pelanggan.  Dalam pemberitahuan resmi pada 31 Oktober 2026, perusahaan menyebut insiden Amadeus mungkin memengaruhi informasi pelanggan yang diproses selama periode Agustus 2023 hingga September 2026.

Maskapai tersebut mengatakan masih bekerja sama dengan Amadeus dan pihak terkait untuk mengetahui cakupan insiden.  Malaysia Airlines juga menegaskan bahwa sistem teknologi informasi internalnya tidak berhasil ditembus dan belum ditemukan bukti akses terhadap informasi keuangan pelanggan.

Sementara itu, Singapore Airlines pada 4 November 2026 mengungkapkan bahwa sekitar 46.000 catatan pemesanan berpotensi terdampak.  Informasi yang terekspos mencakup nama pelanggan, nomor referensi pemesanan, rencana perjalanan, dan kelas penerbangan.

Pada sekitar 620 catatan pemesanan, informasi tambahan seperti alamat email, nomor telepon, dokumen perjalanan, dan nomor keanggotaan KrisFlyer juga berpotensi diakses.

Singapore Airlines menyatakan informasi rekening bank dan kartu kredit tidak ikut bocor.  Maskapai tersebut juga mulai menghubungi pelanggan terdampak yang memiliki jadwal penerbangan dalam waktu dekat sebagai langkah pencegahan.

Selain keempat maskapai tersebut, Asiana Airlines dari Korea Selatan juga telah mengumumkan insiden keamanan yang melibatkan sistem Amadeus.

Mengapa Kebocoran Sistem Pihak Ketiga Berbahaya?

Insiden ini menunjukkan risiko keamanan dalam technology supply chain.  Maskapai penerbangan tidak selalu mengelola seluruh infrastruktur digitalnya secara mandiri.  Sebagian layanan penting justru bergantung pada penyedia teknologi eksternal.

Amadeus menyediakan berbagai solusi teknologi untuk industri perjalanan, termasuk sistem reservasi dan pengelolaan layanan penumpang.  Karena itu, akses tidak sah terhadap sistem penyedia tersebut berpotensi memengaruhi informasi pelanggan dari sejumlah maskapai yang menggunakan layanannya.

Risikonya tidak hanya berkaitan dengan kebocoran data, tetapi juga kemungkinan penyalahgunaan informasi untuk melakukan penipuan.

Nomor pemesanan, nama penumpang, jadwal penerbangan, hingga informasi dokumen perjalanan dapat dimanfaatkan untuk membuat pesan penipuan yang terlihat meyakinkan.  Pelaku dapat menyamar sebagai petugas maskapai atau layanan pelanggan untuk meminta informasi tambahan maupun mengarahkan korban ke situs palsu.

Penumpang Diminta Waspada terhadap Phishing

Maskapai yang terdampak mengimbau pelanggan agar lebih berhati-hati terhadap komunikasi mencurigakan.  Penumpang perlu memperhatikan pesan email, panggilan telepon, atau tautan yang mengatasnamakan maskapai dan meminta informasi pribadi maupun keuangan.

Penumpang yang menerima pemberitahuan terkait insiden ini sebaiknya memeriksa keasliannya melalui situs resmi atau saluran layanan pelanggan maskapai.  

Hindari membuka tautan yang tidak dikenal, mengunduh lampiran mencurigakan, atau memberikan nomor paspor, kata sandi, dan informasi kartu pembayaran kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi.

Kasus Amadeus juga menjadi pengingat bahwa keamanan data penumpang tidak hanya bergantung pada maskapai, tetapi juga pada seluruh penyedia teknologi yang terlibat dalam proses perjalanan.

Hingga 5 November 2026, penyelidikan terhadap insiden tersebut masih berlangsung dan jumlah keseluruhan pelanggan yang terdampak belum diumumkan. Penumpang yang pernah melakukan pemesanan melalui maskapai terkait disarankan mengikuti pemberitahuan resmi masing-masing perusahaan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap upaya phishing.