Saat ini, kecerdasan buatan atau AI bukan sekadar tren teknologi, melainkan penggerak utama ekonomi global. Perusahaan raksasa seperti Microsoft, Meta, dan Alphabet menggelontorkan dana jutaan dolar untuk meningkatkan modal mereka demi menyokong perkembangan ini.
Namun, di balik pertumbuhan yang luar biasa ini, muncul sebuah strategi investasi yang dianggap berisiko: Circular Deals.
Apa Itu Circular Deals?
Secara sederhana, circular deals adalah kondisi di mana perusahaan-perusahaan besar saling mengirimkan uang, produk, dan layanan satu sama lain dalam satu lingkaran tertutup. Sebagai contoh nyata:
NVIDIA menginvestasikan sekitar 100 juta dolar ke OpenAI. Di saat yang sama, OpenAI adalah pelanggan besar yang membeli chip dari NVIDIA. OpenAI juga menggunakan layanan komputasi dari Oracle, sementara Oracle sendiri adalah pelanggan NVIDIA.
Lingkaran ini menciptakan kesan bahwa permintaan pasar sangat tinggi karena uang berputar di antara pemain yang sama. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa jika salah satu perusahaan dalam rantai ini goyah, seluruh sistem bisa ikut jatuh.
Pembangunan Infrastruktur Besar-besaran
Ledakan AI tidak hanya terjadi di dunia perangkat lunak, tetapi juga memicu pembangunan fisik yang masif. Fokus utama saat ini adalah pembangunan data center yang membutuhkan energi listrik dan air dalam jumlah besar.
- Nilai Investasi: Morgan Stanley memperkirakan perusahaan akan menghabiskan sekitar 3 triliun dolar untuk membangun pusat data AI.
- Kecepatan adalah Kunci: Perusahaan lebih memilih merenovasi gedung lama (seperti bekas pabrik tekstil) menjadi pusat data karena hanya butuh waktu 6 bulan, dibandingkan membangun dari nol yang memakan waktu hingga 2 tahun.
- Sektor Konstruksi: Di tahun 2025, saat sektor konstruksi lain diprediksi turun, pembangunan pusat data dan stasiun daya justru tetap kuat.
- Tantangan Terbesar: Belum Menghasilkan Untung
"Setiap kali seseorang menggunakan ChatGPT, OpenAI kemungkinan besar sedang kehilangan uang."
Sam Altman menyatakan bahwa OpenAI mungkin baru akan mencapai titik impas sekitar tahun 2029 atau 2030. Mengingat besarnya biaya listrik dan infrastruktur yang harus dibayar sekarang, target tersebut dianggap sebagai tantangan yang sangat berat.
Apakah Ini 'Bubble' Seperti Era Dotcom?
Banyak pihak mulai membandingkan situasi sekarang dengan fenomena Bubble Dotcom tahun 2000.
- Era Dotcom (2000): Janji dunia baru yang berani, dampak kegagalan adalah hilangnya nilai pasar 5 triliun dolar yang terjadi di antara penyedia kabel fiber-optik.
- Era AI (Sekarang): Perubahan struktural seperti listrik/internet yang berpotensi menyebabkan krisis ekonomi global yang terjadi di antara penyedia chip dan cloud AI.
Meskipun ada risiko "bubble" akan pecah, ada sisi positif yang bisa dipelajari. Pada tahun 90-an, kelebihan kabel fiber-optik yang dibangun akhirnya menjadi tulang punggung internet broadband yang kita gunakan sekarang.
Begitu pula dengan pusat data AI; jika kapasitasnya berlebih, infrastruktur tersebut tetap akan berguna di masa depan.
Dampak Terhadap Ekonomi dan Masyarakat
Investasi AI telah menjadi penyumbang besar bagi pertumbuhan Produk Domestik Bruto Amerika Serikat, membantu ekonomi tetap bertahan di tengah inflasi.
Namun, risiko ini juga ditanggung oleh masyarakat umum melalui akun investasi atau dana pensiun (seperti 401K) yang banyak menanamkan modal di perusahaan teknologi besar.
Ada kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan ini menjadi "too big to fail" (terlalu besar untuk gagal). Jika mereka jatuh, dampaknya terhadap ekonomi bisa serupa dengan krisis finansial global.
Meskipun ada elemen perjudian di bursa saham, teknologi AI itu sendiri dianggap sebagai produk yang nyata dan akan bertahan dalam jangka panjang, meski tidak semua perusahaan yang ada sekarang akan berhasil selamat.
Sumber: Youtube, Bloomberg Originals, 23 Jan 2026 16:00. How Circular Deals Are Driving the AI Boom.
