Meskipun Singapura adalah salah satu negara dengan koneksi internet tercepat dan terbaik di dunia, banyak Pekerja Rumah Tangga (ART) yang masih dilarang menggunakan Wi-Fi rumah oleh majikan mereka.
Simak realita akses internet bagi pekerja migran di Singapura dan mengapa kartu SIM prabayar menjadi solusi utama mereka.
Singapura dikenal sebagai salah satu negara paling terkoneksi secara digital di dunia. Berdasarkan data dari Infocomm Media Development Authority (IMDA) tahun 2025, tingkat penetrasi broadband nirkabel di sana mencapai sekitar 180 persen.
Namun, kemudahan akses ini ternyata belum sepenuhnya dirasakan oleh sekitar 300.000 Pekerja Rumah Tangga (ART) asing yang bekerja di negara tersebut.
Banyak asisten rumah tangga yang tidak diberikan akses Wi-Fi rumah oleh majikannya. Hal ini memaksa mereka untuk mencari alternatif lain agar tetap bisa berkomunikasi dengan keluarga di negara asal.
Pengawasan Ketat dan Pembatasan Wi-Fi oleh Majikan
Tidak hanya larangan Wi-Fi, privasi juga menjadi isu. Banyak majikan memasang CCTV di sudut-sudut rumah untuk memantau aktivitas. Sebagian ART bahkan diwajibkan meletakkan ponsel mereka di dekat CCTV selama jam kerja agar majikan bisa memastikan mereka tidak bermain ponsel.
Akibatnya, banyak pekerja yang baru bisa memegang ponsel pada larut malam ketika pekerjaan selesai—di mana keluarga mereka di kampung halaman mungkin sudah tertidur.
Di saat banyak warga lokal beralih ke paket pascabayar tanpa kontrak (SIM-only plan) yang menawarkan kuota ratusan gigabyte dengan harga murah, kartu SIM prabayar tetap menjadi primadona di kalangan ART asing. Berikut adalah alasan utamanya:
- Paket prabayar memungkinkan ART untuk mengatur pengeluaran secara mandiri tanpa takut adanya pembengkakan tagihan bulanan.
- Kehidupan pekerja migran seringkali penuh ketidakpastian. Terkadang mereka harus pulang ke negara asal jika tidak lagi dibutuhkan oleh majikan. Fleksibilitas paket prabayar sangat cocok karena tidak memerlukan cek kredit atau kontrak jangka panjang.
- Dengan menggunakan jaringan prabayar sendiri, ART merasa memiliki privasi lebih karena aktivitas internet mereka tidak bergantung pada infrastruktur rumah majikan.
Selain itu, harga data seluler prabayar di Singapura kini semakin terjangkau, di mana operator telekomunikasi utama menawarkan kuota antara 80GB hingga 500GB dengan harga berkisar $10 hingga $15.
Akses Internet adalah Hak dan Kebutuhan Krusial
Organisasi non-profit Humanitarian Organisation for Migration Economics (Home) menyoroti bahaya dari pembatasan akses komunikasi ini. Prashant Somosundram, Wakil Direktur Home, menyatakan bahwa akses ponsel sangat krusial karena jam kerja ART yang tidak menentu.
Akses komunikasi yang layak bukan hanya soal hiburan, melainkan hal yang esensial bagi kesejahteraan mental mereka dan menjadi alat pertolongan di saat darurat.
Dalam beberapa kasus, larangan penggunaan ponsel oleh majikan justru menghalangi pekerja yang menjadi korban kekerasan atau kurang gizi untuk meminta bantuan ke pihak berwenang.
Kesenjangan Akses Digital di Ranah Domestik
Penelitian dari Dr. Natalie Pang, pakar dari National University of Singapore (NUS), mengonfirmasi bahwa hampir semua ART yang ia wawancarai menghadapi pembatasan internet dari majikannya.
Akses digital pekerja migran masih sangat dikendalikan oleh pihak lain, sehingga menciptakan kesenjangan digital. Di berbagai grup Facebook dan forum komunitas Singapura, perdebatan soal aturan pemakaian ponsel ART terus terjadi.
Sebagian majikan memilih pembatasan ketat demi produktivitas, sementara yang lain berpendapat bahwa hasil pekerjaanlah yang harus dinilai, bukan seberapa sering mereka memegang layar gawai.
Satu hal yang pasti, bagi para pahlawan devisa ini, internet adalah jalur kehidupan yang menghubungkan mereka dengan keluarga tercinta. Dan kartu prabayar sejauh ini menjadi cara terbaik bagi mereka untuk tetap mandiri dan terhubung di era digital.
Sumber: Straitstimes - "‘Not allowed to use the home Wi-Fi’: How domestic workers get online in Singapore".
