Peter Steinberger, pencipta asisten AI OpenClaw yang kini bekerja di OpenAI, mengaku menghabiskan US$10 juta untuk token AI dalam sebulan terakhir. Jumlah itu setara lebih dari seratus miliar rupiah.
Pengakuan tersebut ia sampaikan saat berbincang dengan CEO Cloudflare, Dane Knecht, di acara Cloudflare Connect 2026 di San Francisco, Amerika Serikat. Dalam obrolan itu, Knecht menyebut anggaran token Steinberger hampir tanpa batas, hal yang tidak dimiliki semua orang di ruangan.
Steinberger tidak menampik. Ia mengakui bahwa tidak semua pemakaian token tersebut benar-benar berguna.
Apa itu token AI dan mengapa bisa semahal ini?
Token adalah potongan teks yang diproses model AI, dan biaya penggunaannya dihitung dari jumlah token yang dipakai. Agen AI seperti OpenClaw bekerja terus-menerus dari mulai membaca, menganalisis, lalu menulis ulang banyak teks. Semakin sibuk agennya, semakin besar tagihannya.
Pada Mei 2026, Steinberger sempat memamerkan tangkapan layar pemakaian API OpenAI. Angkanya mencapai sekitar US$1,3 juta dalam 30 hari, mencakup 603 miliar token dalam 7,6 juta permintaan. Semua itu dihasilkan sekitar 100 agen pemrograman Codex yang dijalankan tim beranggotakan tiga orang.
Saat itu, OpenAI yang menanggung biayanya. Steinberger juga menjelaskan bahwa angka tersebut mengikuti tarif “Fast Mode” Codex yang jauh lebih mahal daripada mode standar. Bila dibandingkan langsung, pengeluaran terbaru kira-kira tujuh kali lipat angka Mei, meski periode dan cara penghitungannya mungkin tidak sama.
Steinberger juga melontarkan pertanyaan menarik. Ia heran mengapa agen AI masih berjalan di komputer pribadi, padahal menurutnya semua itu semestinya ada di cloud. Namun, memindahkan beban ke cloud berarti menambah biaya dan memunculkan persoalan privasi.
Bagi para pengelola keuangan perusahaan, kisah ini tidak menenangkan karena biaya token AI terus menjadi sumber kekhawatiran. Di sisi lain, angka sebesar ini bisa menjadi kabar baik bagi OpenAI, yang menurut Computerworld sedang bersiap melantai di bursa.
Pada Mei lalu, sebagian warganet bahkan mempertanyakan apakah dana sebesar itu lebih baik dipakai untuk menggaji insinyur. Steinberger berdalih otomatisasi justru membuat proyeknya bisa berjalan ramping, dan menyebut pengeluaran itu sebagai eksperimen tentang cara membangun perangkat lunak jika biaya token tidak dipikirkan.
Bagi pengguna biasa maupun perusahaan, pelajarannya jelas: pantau pemakaian token sejak awal, sebelum tagihan membengkak.
Sumber:
- Maxwell Cooter, “OpenClaw creator spent $10 million on AI tokens last month”, Computerworld, 23 Oktober 2026.
- Luke James, “OpenClaw creator burned through $1.3 million in OpenAI API tokens in a single month”, Tom’s Hardware.
