Suara Palsu, Bahaya Nyata: Mengenal Ancaman "Deepfake Vishing" di Era AI

Notification

×

Suara Palsu, Bahaya Nyata: Mengenal Ancaman "Deepfake Vishing" di Era AI

07/02/2026 | 2:16:00 AM WIB Last Updated 2026-02-06T19:35:50Z

Bayangkan telepon Anda berdering.  Di ujung sana terdengar suara anak Anda yang sedang menangis histeris mengaku diculik, atau suara atasan Anda yang mendesak meminta transfer dana segera untuk proyek rahasia. 

Suaranya, intonasinya, bahkan jeda napasnya terdengar 100% identik.  Anda panik dan segera menuruti permintaan tersebut.  Namun, kenyataannya, anak Anda sedang aman di sekolah dan atasan Anda sedang rapat makan siang.  Anda baru saja menjadi korban Deepfake Vishing.

Apa Itu Deepfake Vishing?

Deepfake Vishing adalah gabungan dari istilah Deepfake (media sintetis yang dimanipulasi AI) dan Vishing (Voice Phishing atau penipuan suara).

Jika dahulu penipu menelpon secara acak dengan modus "mama minta pulsa" atau mengaku petugas bank dengan suara asing, kini mereka menggunakan Generative AI untuk meniru suara orang spesifik yang Anda kenal dan percayai.

Bagaimana Modus Ini Bekerja?

Teknologi kloning suara kini semakin canggih dan mudah diakses.  Penipu hanya membutuhkan sampel audio yang sangat pendek—terkadang hanya 3 hingga 10 detik—untuk melatih AI agar bisa meniru suara seseorang.

Penipu mencari sampel suara target dari media sosial (Instagram Stories, TikTok, video YouTube) atau rekaman pesan suara.  

Kemudian sampel tersebut dimasukkan ke dalam software AI yang mampu melakukan Text-to-Speech dengan suara target.  Penipu mengetik apa pun yang ingin mereka katakan, dan AI akan mengucapkannya dengan suara korban.

Penipu menelepon korban (seringkali menggunakan spoofing nomor agar terlihat seperti kontak asli) dan menciptakan skenario darurat untuk memicu kepanikan, sehingga korban tidak sempat berpikir jernih.

Kasus Nyata Deepfake yang Mengguncang Dunia

Ancaman ini bukan lagi sekadar teori fiksi ilmiah.  Beberapa kasus besar telah terjadi:

Kasus "Virtual Kidnapping" Arizona (2023)

Seorang ibu bernama Jennifer DeStefano di AS menerima telepon dari "putrinya" yang menangis minta tolong karena diculik.   Penipu meminta uang tebusan.  Suara itu begitu mirip hingga Jennifer yakin itu anaknya, padahal itu adalah hasil kloning AI.

Pencurian $25 Juta di Hong Kong (2024)

Seorang pegawai keuangan di perusahaan multinasional tertipu mentransfer dana sebesar HK$200 juta (sekitar Rp400 miliar).  Penipu menggunakan teknologi deepfake video dan suara untuk meniru Chief Financial Officer (CFO) perusahaan tersebut dalam sebuah video conference.

Cara Melindungi Diri dan Keluarga

Menghadapi teknologi yang semakin canggih, telinga kita saja tidak lagi cukup untuk membedakan mana yang asli dan palsu.  Berikut langkah mitigasinya:

  • Buat "Kata Sandi Keluarga" (Safe Word):  Sepakati satu kata atau frasa rahasia dengan keluarga atau rekan kerja terdekat.  Jika ada telepon darurat yang mencurigakan, minta penelepon menyebutkan kata sandi tersebut. AI tidak akan tahu kata sandi Anda.
  • Verifikasi Ulang (Call Back):  Jika Anda menerima telepon dari "teman" atau "atasan" yang meminta uang atau data mendesak, segera matikan telepon.  Hubungi kembali nomor asli orang tersebut yang tersimpan di kontak Anda (jangan menekan tombol redial).
  • Hati-hati dengan Jejak Digital:  Pertimbangkan untuk membatasi siapa yang bisa melihat postingan video atau suara Anda di media sosial. Semakin banyak sampel suara Anda di internet, semakin mudah bagi penipu untuk mengkloningnya.
  • Jangan Percaya Caller ID:  Nomor telepon yang muncul di layar bisa dipalsukan (spoofing). Jangan berasumsi penelepon adalah asli hanya karena nama yang muncul di layar sesuai.


Deepfake Vishing adalah sisi gelap dari kemajuan kecerdasan buatan.  Kunci utama untuk selamat dari modus ini bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan skeptisisme dan verifikasi.  
Di era digital ini, pepatah lama hearing is believing sudah tidak lagi berlaku.

Referensi: