Seedance 2.0, sebuah model pembuatan video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan oleh ByteDance, baru-baru ini dikabarkan menjadi viral di Tiongkok tetapi kini menghadapi pengawasan industri karena kontroversi teknis.
Model tersebut dilaporkan menunjukkan kemampuan untuk menghasilkan karakteristik suara pribadi yang sangat akurat hanya dengan menggunakan gambar wajah, bahkan tanpa izin dari pengguna.
Meskipun fitur tersebut menunjukkan kemampuan teknis yang kuat, fitur ini memicu kekhawatiran serius terkait privasi dan etika, sehingga telah ditangguhkan secara mendesak oleh pihak pengembang.
Seedance 2.0 dari ByteDance memanfaatkan arsitektur dual-branch diffusion transformer untuk menghasilkan visual video dan audio asli secara bersamaan. Pengguna dapat memasukkan teks atau mengunggah gambar, dan dalam waktu 60 detik, model ini mampu memproduksi urutan multi-shot pada resolusi 2K.
Fitur unggulannya adalah kemampuan untuk menghasilkan konten multi-adegan yang koheren dari satu perintah (prompt), secara otomatis menguraikan logika naratif sambil mempertahankan representasi karakter yang konsisten.
Dalam sebuah pengujian baru-baru ini, Pan Tianhong, pendiri outlet media teknologi MediaStorm, menemukan bahwa mengunggah foto wajah pribadi menyebabkan model tersebut menghasilkan audio yang hampir identik dengan suara aslinya tanpa menggunakan sampel suara atau data yang diizinkan.
Pengungkapan ini dengan cepat memicu kekhawatiran publik atas pemalsuan identitas yang didorong oleh AI. Jika disalahgunakan, teknologi ini dapat memungkinkan bentuk-bentuk penyalahgunaan baru, termasuk berita deepfake, penipuan, dan serangan terhadap reputasi seseorang.
Pihak MediaStorm bahkan menyarankan bahwa AI pada akhirnya mungkin akan membuat editor video menjadi usang di masa depan.
Pada hari Senin, operator platform Jimeng (nama aplikasi Seedance 2.0 untuk pasar Tiongkok) mengumumkan bahwa mereka sedang memperbarui model secara mendesak dan akan segera menangguhkan fitur yang memungkinkan foto atau video asli digunakan sebagai subjek referensi demi menjaga lingkungan kreatif yang sehat.
Pada saat yang sama, aplikasi Jimeng dan Doubao milik ByteDance memperkenalkan langkah verifikasi langsung, yang mengharuskan pengguna untuk merekam gambar dan suara mereka sendiri sebelum membuat avatar digital.
ByteDance menekankan bahwa penyesuaian ini dirancang untuk menegakkan tanggung jawab dasar sambil menyeimbangkan inovasi dengan kepatuhan terhadap regulasi. Seedance 2.0 masih dalam tahap pengujian internal, dengan ByteDance mengambil langkah proaktif seperti membatasi fitur tertentu dan memperkuat peninjauan konten untuk memitigasi potensi risiko.
Langkah ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap pengembangan AI yang etis. Seiring kemajuan teknologi, menemukan keseimbangan yang tepat antara inovasi, kepatuhan data, dan perlindungan hak cipta bukan hanya menjadi tanggung jawab perusahaan tetapi juga tantangan global bagi industri AI.
Para pengamat industri tetap optimis tentang potensi Seedance 2.0 dalam drama pendek dan seri animasi berbasis AI, tetapi mereka menekankan bahwa setiap penerapan di dunia nyata harus didasarkan pada keamanan, kontrol, dan akuntabilitas.
Sumber: Technode.com - "ByteDance suspends Seedance 2.0 feature that turns facial photos into personal voices over potential risks".
Youtube: @itnews-indonesia, 10 Feb 2026 18:56. ByteDance Tangguhkan Fitur Seedance 2.0: AI yang Ubah Foto Wajah Jadi Suara Memicu Risiko Deepfake.
