Apa Itu Shadow AI?
Perbedaan Shadow AI vs. Shadow IT
Shadow AI: Berfokus secara spesifik pada alat, platform, dan kasus penggunaan khusus AI yang tidak sah. Perbedaan utamanya terletak pada sifat alat yang digunakan; Shadow AI memperkenalkan kekhawatiran unik terkait manajemen data, output model, dan pengambilan keputusan.
Mengapa Shadow AI Semakin Marak?
Meskipun berisiko, fenomena ini menjadi semakin umum karena beberapa alasan utama:
Aksesibilitas yang Mudah: Banyak aplikasi AI tersedia sebagai produk Software as a Service (SaaS), yang memungkinkan individu untuk mengadopsi alat ini dengan cepat tanpa melibatkan tim TI atau keamanan.
Peningkatan Produktivitas: Karyawan menggunakan alat Shadow AI untuk mengotomatisasi tugas berulang, membuat konten dengan cepat, dan merampingkan proses yang biasanya memakan waktu lama.
Akselerasi Inovasi: Shadow AI memungkinkan tim untuk bereksperimen dengan alat AI baru tanpa menunggu persetujuan resmi, yang dapat memunculkan solusi kreatif dan meningkatkan alur kerja.
Solusi Instan: Karyawan sering mencari solusi ad hoc menggunakan alat AI yang tersedia untuk mengatasi tantangan secara real-time daripada mengandalkan metode tradisional yang lebih lambat.
Bahaya dan Risiko Utama Shadow AI
1. Kebocoran Data dan Kerentanan Keamanan
Menurut jajak pendapat CISO baru-baru ini,
2. Masalah Kepatuhan Regulasi (Noncompliance)
3. Kerusakan Reputasi
Contoh Penggunaan Shadow AI di Tempat Kerja
Shadow AI bermanifestasi dalam berbagai bentuk di seluruh organisasi:
- Chatbot Layanan Pelanggan: Perwakilan layanan pelanggan mungkin menggunakan chatbot AI yang tidak sah untuk menjawab pertanyaan pelanggan, yang berisiko memberikan informasi yang salah atau membocorkan data sensitif.
- Model Machine Learning (ML): Analis mungkin menggunakan model ML eksternal untuk menganalisis data perusahaan, yang dapat menciptakan kerentanan keamanan dan mengekspos informasi sensitif dari kumpulan data kepemilikan.
- Otomasi Pemasaran: Tim pemasaran mungkin menggunakan alat tidak sah untuk mengoptimalkan kampanye atau menganalisis data media sosial, yang berpotensi melanggar standar perlindungan data jika data pelanggan disalahgunakan.
- Visualisasi Data: Menginput data perusahaan ke alat visualisasi AI tanpa persetujuan TI dapat menyebabkan ketidakakuratan pelaporan dan masalah keamanan data.
Strategi Mengelola Risiko Shadow AI
Untuk CIO dan CISO, mengembangkan strategi AI yang kuat adalah kunci manajemen risiko yang efektif. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diambil organisasi:
Tekankan Kolaborasi: Dialog terbuka antara departemen TI, tim keamanan, dan unit bisnis dapat membantu mengidentifikasi alat AI mana yang bermanfaat sekaligus memastikan kepatuhan terhadap protokol perlindungan data.
Kembangkan Kerangka Tata Kelola Fleksibel: Buat pedoman yang jelas tentang jenis sistem AI yang boleh digunakan dan bagaimana informasi sensitif harus ditangani.
Terapkan "Pagar Pembatas" (Guardrails): Gunakan kebijakan teknis seperti firewall untuk memblokir platform tidak sah atau sediakan lingkungan sandbox bagi karyawan untuk menguji aplikasi AI secara aman.
Monitor Penggunaan: Terapkan alat pemantauan jaringan untuk melacak penggunaan aplikasi dan lakukan audit rutin untuk mengidentifikasi perangkat lunak yang tidak disetujui.
Edukasi Karyawan: Komunikasikan risiko Shadow AI secara berkala melalui buletin atau pembaruan triwulanan. Meningkatkan kesadaran akan mendorong karyawan untuk mencari alternatif yang disetujui atau berkonsultasi dengan TI sebelum menggunakan aplikasi baru.
- Definisi Shadow AI: IBM. "What is shadow AI?".
- Statistik Karyawan Membagikan Data Sensitif: SC World. "38% of AI-using employees admit to sending sensitive work data".
- Laporan Kebocoran Data di Inggris: Cyware Social. "Report: Fifth of UK companies admit staff leaked data via GenAI".
- Denda Pelanggaran GDPR: GDPR.eu. "Fines / Penalties".
- Kasus Sports Illustrated: Futurism. "Sports Illustrated Published Articles by Fake, AI-Generated Writers".
- Isu Gambar AI pada Uber Eats: The Modems. "AI Refund Fraud: Deliveroo & Uber Eats Restaurants Fake Food".
