Di era digital saat ini, pelanggan tidak lagi berbelanja melalui satu jalan lurus. Mereka mungkin melihat produk di Instagram, membandingkan harga di situs web melalui laptop, namun akhirnya membeli barang tersebut di toko fisik.
Fenomena ini melahirkan standar baru dalam dunia bisnis yang dikenal sebagai Omnichannel.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu omnichannel, perbedaannya dengan multichannel, serta strategi dan studi kasus dari perusahaan kelas dunia.
Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu omnichannel, perbedaannya dengan multichannel, serta strategi dan studi kasus dari perusahaan kelas dunia.
Apa Itu Omnichannel?
Menurut Harvard Business Review, Omnichannel adalah evolusi dari ritel multichannel yang berfokus pada pengalaman pelanggan yang mulus (seamless) dan terintegrasi di semua titik kontak (touchpoints)—baik itu online, lewat perangkat seluler, maupun di toko fisik.
Berbeda dengan sekadar "ada di mana-mana", omnichannel berarti semua saluran tersebut saling berbicara satu sama lain. Jika seorang pelanggan memasukkan barang ke keranjang belanja di aplikasi seluler, barang tersebut harus tetap ada di keranjang saat ia membuka situs web di desktopnya.
Berbeda dengan sekadar "ada di mana-mana", omnichannel berarti semua saluran tersebut saling berbicara satu sama lain. Jika seorang pelanggan memasukkan barang ke keranjang belanja di aplikasi seluler, barang tersebut harus tetap ada di keranjang saat ia membuka situs web di desktopnya.
Inti dari Omnichannel: Menempatkan pelanggan di tengah (customer-centric), bukan produk atau saluran penjualan.
Omnichannel vs. Multichannel: Apa Bedanya?
Banyak bisnis yang salah mengira bahwa memiliki toko fisik, website, dan media sosial berarti mereka sudah menerapkan omnichannel. Seringkali, itu baru sebatas Multichannel. Mengutip analisis dari McKinsey dan Gartner berikut perbedaannya:- Fitur Multichannel fokus pada channel (Channel-centric), sedangkan omnichannel fokkus pada pelangan (Customer-cenric).
- Data fisik toko pada Multichannel tidak terhubung dengan data online (Data Silo), sedangkan Omnichannel memiliki data terpusat. Satu pandangan utuh tentang pelanggan (Single Customer View).
- Experience pelanggan pada Multichannel terputus-putus sehingga pelanggan mungkin harus mengulang informasi di saluran berbeda, sedangkan pada Omnichannel pelanggan bisa memulai di satu saluran dan menyelesaikannya di saluran lain.
- Konsistensi pesan promosi pada Multichannel bisa berbeda di tiap saluran. Pesan dan branding konsisten di seluruh saluran.
Mengapa Omnichannel Sangat Penting?
Data dari berbagai riset global menunjukkan bahwa strategi omnichannel bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga profitabilitas yang signifikan, Riset menunjukkan bahwa perusahaan dengan strategi omnichannel yang kuat mempertahankan rata-rata 89% pelanggan mereka, dibandingkan dengan hanya 33% untuk perusahaan dengan strategi yang lemah.Menurut studi Harvard Business Review terhadap 46.000 pembeli, pelanggan omnichannel menghabiskan uang 4% lebih banyak di toko dan 10% lebih banyak secara online dibandingkan pelanggan single-channel. Pelanggan yang berinteraksi melalui 3 saluran atau lebih memiliki Customer Lifetime Value (CLV) 30% lebih tinggi.
Tiga Pilar Utama Strategi Omnichannel Sukses
Berdasarkan praktik terbaik yang dirangkum oleh Forbes, ada tiga pilar utama untuk membangun ekosistem ini:A. Data yang Terpusat (Single Source of Truth)
Anda harus memiliki sistem (seperti CRM atau CDP - Customer Data Platform) yang mencatat setiap interaksi pelanggan. Jika pelanggan membeli sepatu di toko, sistem email marketing harus tahu agar tidak mengirimkan diskon untuk sepatu yang sama keesokan harinya.B. Teknologi yang Terintegrasi
Ini melibatkan sinkronisasi inventaris secara real-time. Jangan sampai pelanggan membeli barang secara online untuk diambil di toko (Click-and-Collect), namun sesampainya di sana barang tersebut habis.C. Budaya Organisasi
Divisi online dan offline tidak boleh bersaing memperebutkan omzet. Dalam omnichannel, penjualan online yang diambil di toko fisik adalah kemenangan bersama.Studi Kasus Omnichannel Terbaik Dunia
Berikut adalah contoh penerapan omnichannel terbaik yang sering dikutip oleh para ahli industri.
Starbucks (Raja Program Loyalitas)
Aplikasi Starbucks dianggap sebagai salah satu pengalaman omnichannel terbaik, dimana Anda bisa mengisi saldo kartu di kasir, saldo di aplikasi ponsel langsung bertambah.Fitur Mobile Order & Pay Starbucks memungkinkan pelanggan memesan kopi saat dalam perjalanan dan langsung mengambilnya di toko tanpa antre. Sistem ini mengingat pesanan favorit Anda dan memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi.
Disney (Pengalaman Tanpa Gesekan)
Disney menggunakan gelang MagicBand di taman hiburan mereka yang berfungsi sebagai kunci kamar hotel, tiket masuk wahana, dan alat pembayaran makanan.Semua data terhubung ke aplikasi My Disney Experience. Setelah perjalanan selesai, Disney bisa mengirimkan penawaran khusus berdasarkan wahana apa yang paling sering Anda naiki.
Sephora (Kecantikan Bertemu Teknologi)
Sephora menggabungkan pengalaman belanja fisik dan digital dengan brilian. Pelanggan bisa menggunakan aplikasi untuk memindai produk di toko dan membaca ulasan online seketika.Fitur Augmented Reality (AR) di aplikasi memungkinkan pengguna "mencoba" lipstik secara virtual (Virtual Artist) sebelum membelinya.
Meskipun menjanjikan, transisi ke omnichannel tidak mudah. Tantangan terbesar adalah infrastruktur legacy systems dan silo data. Namun, masa depan omnichannel menurut tren 2025/2026 akan didorong oleh:
- AI & Hyper-personalisasi, dimana AI akan memprediksi apa yang Anda butuhkan sebelum Anda mencarinya.
- Phygital (Physical + Digital) yaitu batas antara toko fisik dan digital akan semakin kabur. Contoh: Toko tanpa kasir (seperti Amazon Go) atau cermin pintar di kamar pas.
- Social Commerce: Kemampuan membeli langsung di dalam aplikasi media sosial (TikTok Shop, Instagram Shopping) tanpa berpindah aplikasi, namun datanya tetap terhubung ke pusat inventaris merek.
Omnichannel sudah menjadi keharusan untuk bertahan di pasar modern. Pelanggan tidak peduli tentang saluran apa yang mereka gunakan; mereka hanya peduli pada pengalaman yang mudah, cepat, dan personal. Bisnis yang mampu menghapus sekat antar saluran adalah yang akan memenangkan hati pelanggan di masa depan.
Referensi:
- Harvard Business Review: A Study of 46,000 Shoppers Shows That Omnichannel Retailing Works.
- McKinsey & Company: The future of personalization—and how to get there.
- Gartner: Glossary: Omnichannel
- Think with Google: Omnichannel marketing: The key to unlocking a seamless customer journey.
- Forbes: 50 Stats That Prove The Value Of Customer Experience (Sering diperbarui dengan data omnichannel terbaru).
