Pernah dengar tentang Joint Embedding Predictive Architecture (JEPA)? Model AI yang satu ini baru saja diperkenalkan oleh Yann LeCun, pakar dunia di bidang kecerdasan buatan.
Banyak yang bilang, JEPA siap menantang dominasi ChatGPT yang sedang naik daun. Kalau penasaran seperti apa kehebatannya, yuk simak ulasan berikut ini!
Apa Itu JEPA dan Siapa Yann LeCun?
JEPA, singkatan dari Joint-Embedding Predictive Architecture, merupakan pendekatan baru untuk melatih AI agar bisa memahami dan memprediksi dunia sekitar. Nah, penciptanya, Yann LeCun, bukan nama sembarangan. Ia dikenal sebagai salah satu “bapak” AI modern dan juga Kepala AI di Meta (Facebook).
Melalui pendekatan JEPA, LeCun percaya mesin bisa belajar lebih mirip manusia. Kalau ChatGPT belajar dari teks dan pola bahasa, JEPA berusaha meniru cara kita memahami dunia melalui prediksi dan pengalaman.
Mengapa JEPA Disebut Saingan Baru ChatGPT?
JEPA dari Meta disebut sebagai saingan baru yang potensial bagi ChatGPT karena menghadirkan pendekatan fundamental yang berbeda dan lebih efisien untuk kecerdasan buatan. Jika ChatGPT mengandalkan Large Language Model (LLM) yang menghasilkan teks token demi token, JEPA dirancang sebagai world model yang belajar memahami dan memprediksi keadaan fisik sekitar melalui pengamatan video dengan cara yang mirip manusia.
Arsitektur inti JEPA, termasuk varian terkininya seperti VL-JEPA, beroperasi di ruang representasi abstrak (embedding space), memprediksi makna atau konsep dari suatu adegan daripada menghasilkan setiap kata secara detail.
Hal tersebut membuatnya jauh lebih efisien; penelitian menunjukkan model berbasis JEPA dapat mencapai kinerja yang lebih kuat dengan parameter yang 50% lebih sedikit dan mengurangi operasi decoding hingga 2.85 kali dibandingkan pendekatan tradisional.
Keunggulan dalam pemahaman visual dan pemodelan sebab-akibat ini menjadikan JEPA khususnya unggul untuk aplikasi yang membutuhkan pemahaman dunia nyata, seperti asisten robotika dan analisis video waktu-nyata, yang merupakan bidang di mana model bahasa murni seperti ChatGPT memiliki keterbatasan.
Dengan demikian, JEPA tidak langsung menggantikan ChatGPT dalam hal percakapan, tetapi menawarkan jalur alternatif yang lebih efisien dan grounded menuju AI yang cerdas, sehingga membentuk persaingan strategis dalam visi masa depan AI antara Meta dan OpenAI.
Perbandingan JEPA dan ChatGPT
| Fitur | JEPA | ChatGPT |
|---|---|---|
| Pendekatan | Prediktif, mirip manusia | Meniru pola dari data teks |
| Jenis Data | Multimodal (video, suara, gambar, teks) | Teks saja |
| Kemampuan Adaptasi | Tinggi, mampu belajar dari situasi baru | Terbatas pada data yang ada |
| Akses Publik | Masih eksperimen dan open source | Sudah tersedia luas |
Keunggulan JEPA Dibanding ChatGPT
JEPA mengusung konsep yang lebih dekat dengan proses belajar manusia. Menurut LeCun, AI butuh pemahaman kontekstual, bukan sekadar menghafal data. Contohnya, saat kita bertemu hal baru, otak kita secara alami “menebak” apa yang akan terjadi. Kalau prediksi salah, kita belajar memperbaiki. Konsep ini diadopsi JEPA, sehingga AI bisa lebih fleksibel dan adaptif.
Penggunaan data multimodal juga jadi nilai plus. JEPA dirancang untuk menangkap informasi tidak hanya dari teks, tapi juga gambar, audio, dan video.
Potensi dan Tantangan JEPA ke Depan
Walaupun masih tahap eksperimen, potensi JEPA cukup menjanjikan. Saat ini JEPA terbuka bagi para peneliti dan pengembang di dunia untuk dieksplorasi (open source).
Tapi tentu saja, masih banyak tantangan. Salah satunya, bagaimana membuat AI benar-benar punya “akal sehat” seperti manusia. Hal ini masih terus diuji dan dikembangkan.
Sebagai contoh, ChatGPT kadang masih suka keliru interpretasi ketika diberi konteks yang rumit, karena hanya memproses data teks tanpa pengalaman langsung. JEPA ingin menutup celah ini.
Dampak JEPA bagi Dunia Teknologi dan Masyarakat
JEPA diperkirakan akan membawa dampak revolusioner bagi dunia teknologi dan masyarakat dengan mendorong terciptanya sistem kecerdasan buatan yang jauh lebih efisien, memahami dunia layaknya manusia, dan mampu diaplikasikan pada bidang-bidang kritis.
Berbeda dari model AI generatif saat ini yang boros komputasi, arsitektur JEPA yang memprediksi dalam ruang representasi abstrak memungkinkan pelatihan model yang kuat dengan sumber daya yang jauh lebih sedikit, membuka jalan bagi pengembangan AI yang lebih terjangkau dan berkelanjutan.
Dampak utamanya terletak pada kemampuan JEPA sebagai world model yang memahami konteks dan hukum fisika dasar dari pengamatan visual, sehingga sangat potensial untuk menggerakkan robotika yang lebih mandiri, sistem asistensi real-time seperti kendaraan otonom, serta simulasi yang akurat untuk bidang seperti penemuan obat dan ilmu iklim.
Bagi masyarakat, ini berarti kehadiran AI yang lebih grounded dalam realitas, mengurangi halusinasi, dan mampu menjadi asisten yang lebih aman dan dapat dipercaya dalam interaksi sehari-hari, sekaligus mempercepat inovasi di berbagai sektor industri.
JEPA: Bagian dari Masa Depan AI?
Secara meyakinkan JEPA dianggap sebagai bagian fundamental dari masa depan AI, terutama karena ia menawarkan jalur alternatif yang lebih efisien dan masuk akal menuju kecerdasan buatan yang benar-benar memahami dunia.
Dikembangkan oleh Meta AI dengan visi Yann LeCun, JEPA dirancang bukan sebagai model generator teks seperti ChatGPT, melainkan sebagai world model yang belajar memahami bagaimana dunia fisik bekerja melalui pengamatan—mirip dengan cara bayi belajar.
Dengan memprediksi representasi abstrak (embedding) dari bagian informasi yang hilang dalam data (seperti video), bukan menghasilkan setiap detailnya, JEPA mencapai pemahaman konseptual yang mendalam dengan efisiensi komputasi yang jauh lebih tinggi, menggunakan lebih sedikit data dan energi.
Pendekatan tersebut diyakini dapat mengatasi keterbatasan model AI generatif saat ini, seperti halusinasi dan ketergantungan pada data dalam skala masif, sehingga membuka jalan bagi AI yang lebih aman, dapat diandalkan, dan mampu berintegrasi secara lebih intuitif ke dalam kehidupan nyata, mulai dari robotika otonom dan asisten virtual yang lebih cerdas hingga percepatan penelitian ilmiah, menandai evolusi menuju AI yang benar-benar cerdas.
Youtube: iTNews Indonesia, 07 Jan 2026 21:51. JEPA: Model AI Terbaru Yann LeCun yang Siap Jadi Saingan ChatGPT.
